Jumat, 28 November 2014

Struktur dan Desain Organisasi

1) Pengertian organisasi
Organisasi adalah sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2) Pengertian struktur organisasi
Struktur Organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi atau perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan yang di harapakan dan di inginkan. Struktur Organisasi menggambarkan dengan jelas pemisahan kegiatan pekerjaan antara yang satu dengan yang lain dan bagaimana hubungan aktivitas dan fungsi dibatasi. Dalam struktur organisasi yang baik harus menjelaskan hubungan wewenang siapa melapor kepada siapa, jadi ada satu pertanggung jawaban apa yang akan di kerjakan.

3) Desain Organisasi
Desain organisasi (organizational design) merupakan proses memilih dan mengimplementasikan struktur yang terbaik untuk mengelola sumber-sumber untuk mencapai tujuan. Sasaran desain organisasi adalah menggunakan struktur yang memberikan fasilitas pengimplementasian strategi. Desain organisasi dapat juga dinyatakan sebagi proses pembuatan keputusan yang dilakukan oleh manajer untuk memilih struktur organisasi yang sesuai dengan strategi untuk organisasi dan lingkungan tempat anggota organisasi melaksanakan strategi tersebut. Desain organisasi menuntut manajer untuk melihat secara bersamaan ke dalam organisasi dan ke luar organisasi. Ada empat bagian untuk membangun desain organisasi, yaitu pembagian kerja, departementalisasi, hirarki dan koordinasi. Dalam pengembangan desain organisasi ada dua hal yang penting; pertama perubahan stratgei dan lingkungan berlangsung dengan berlalunya waktu, desain organisasi merupakan proses yang berkelanjutan. Kedua, perubahan dalam struktur termasuk mencoba dan kemungkinan berbuat salah dalam rangka mensyusun desain organisasi.
Cara membuat desain organisasi yag efektif :
Dalam proses desain organisasi ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan, yaitu :
  1. Bagaimana seharusnya tugas diberikan pada sebuah posisi dalam organisasi, dan bagaimana posisi spesialisasi dalam organisasi?
  2. Berdasarkan kriteria apa dalam setiap tingkatan posisi dalam organisasi distandarkan?
  3. Apa ketrampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan pada setiap posisi jabatan?
  4. Berdasarkan basis apa posisi posisi disatukan dalam sebuah unit kerja? Dan unit kerja dalam sebuah grup kerja yang lebih besar?
  5. Seberapa besar unit dibentuk; dan berapa banyak posisi yang melapor pada manajer?
  6. Bagaimana pengambilan keputusan didelegasikan dalam rantai kewenangan dari jajaran manajemen sampai kepada jajaran operasional?
Berikut ini adalah tahapan yang dipergunakan dalam mendesain bentuk organisasi :
1. Menentukan tingkat hierarki organisasi
2. Menentukan besaran unit atau span of control
3. mengelompokkan posisi dalam organisasi
4. Penamaan nama jabatan
5. Menggambar struktur organisasi.

4) Desain organisasi dan perilaku karyawan 
 *Motivasi
Setiap orang pasti mempunyai motifasi sebagai alasan mengapa mereka berperilaku tertentu. Dengan kata lain motifasi merupakan mengapa mereka yang menyebabkan orang berperilaku seperti yang mereka lakkukan.

Jenjang Kebutuhan Karyawan
Kebutuhsn karyawan beserta jenjangnya dapat ditentukan atas dasat penemyan Abraham H. Maslow, kebutuhan-kebutuhan yanh belum tentu terpenuhi dapat memotifasi perilaku manusia, sedangkan kebutuhan yang sudah terpenuhi dapat memovasi perilaku manusia, sedangkan kebutuhan yang sudah terpenuhi tidak akan lama menjadi motifator meskipun dapat muncul kembali sebagai motivator.
Teori motivasi dari Maslow menekankan dua ide dasar :
Orang mempunyai banyak kebutuhan, tetapi hanya kebutuhan-kebutuhan yang belum terpenuhi saja dapat yang dapat mempengaruhi perilaku manusia.
Kebutuhan mannusia dikelokpokkan dalam sebuah hierarki kepentingan. Jika satu kebutuhan terpenuhi, kebutuhan lain yang tinggkatnya lebih tinggi akan muncul dan pemuasan.
Hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow dapat dilihat, kebutuhan pertama yang harus dipenuhi adalah kebutuhan fisiologis, seperti rasa lapar, haus, dan lelah.
Ide Moslow itu tidak menjelaskan semua manusia pada pekerjaan. Sumbangan terletak pada konsep hierarki yang dikemukakan. Ia merupakan orang pertama yang menyarankan bahwa jika suatu kebutuhan terpenuhi, kebutuhan yang berjenjang lebih tinggi akan muncul. Teori kebutuhan dari Moslow itu telah memberikan dampak pada pendekatan bisnis terhadap motivasi karyawan.

*Pekerjaan dan Sikap Jabatan
Perkembangan teknologi dewasa ini telah menyebabkan penggunaan mesin dan peralatan otomatis yang lebih besar. Akibatnya, karyawan di pabrik kadang-kadang mengeluh bahwa pekerjaan mereka membosankan. Mungkin mereka merasa tidak memperoleh kesempatan untuk menggunakan keterampilannya. Kecenderungan kearah yang lebih otomatis dibidang manufaktur dan pertanian lambat akan mendapatkan tantangan dari serikat buruh.

*Kepemimpinan
Dalam perusahaan, kepemimpinan itu berkaitan dengan pengarahan kepada kaarya untuk melakukan pekerjaan. Ini menjadi bagian penting dalam memahami perilakau kerja. Beberapa penelitian telah memperlihatkan bahwa tidak ada” satu cara terbaik” untuk memimpin karyawan, ini bergantung pada pemimpinnya, karyawan, dan situasi yang ada.

Rabu, 19 November 2014

Kepemimpinan

1) Definisi Kepemimpinan
kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.

2) Teori Kepemimpinan
1. Teori Sifat

Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan  bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Dan kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya. Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah:
- pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas, obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi masa depan;
- sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang antisipatif, kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas integratif;
- kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala prioritas, membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik, dan berkomunikasi secara efektif.  
 
2.    Teori Perilaku
Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Dalam hal ini, pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:
a.  konsiderasi dan struktur inisiasi
Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki ciri  ramah tamah,mau berkonsultasi, mendukung, membela, mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta memperlakukannya setingkat dirinya. Di samping itu terdapat pula kecenderungan perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas organisasi.
b.  berorientasi kepada bawahan dan produksi
perilaku pemimpin yang berorientasi kepada bawahan ditandai oleh penekanan pada hubungan atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan kebutuhan bawahan serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan. Sedangkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki kecenderungan penekanan pada segi teknis pekerjaan, pengutamaan penyelenggaraan dan penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan.
Pada sisi lain, perilaku pemimpin menurut model leadership continuum pada dasarnya ada dua yaitu berorientasi kepada pemimpin dan bawahan. Sedangkan berdasarkan model grafik kepemimpinan, perilaku setiap pemimpin dapat diukur melalui dua dimensi yaitu perhatiannya terhadap hasil/tugas dan terhadap bawahan/hubungan kerja.
Kecenderungan perilaku pemimpin pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari masalah fungsi dan gaya kepemimpinan (JAF.Stoner, 1978:442-443)

3.    Teori Situasional
Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan faktor waktu dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129) adalah
* Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas;
* Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan;
* Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan;
* Norma yang dianut kelompok;
* Rentang kendali;
* Ancaman dari luar organisasi;
* Tingkat stress;
* Iklim yang terdapat dalam organisasi.

3) Kecerdasan Emosional dan Efektivitas Kepemimpinan
  Kecerdasan emosional memberikan kontribusi yang sangat besar dalam membentuk kepemimpinan yang sukses. Seorang pemimpin tidak hanya memusatkan perhatiannya pada pekerjaan saja demi kesuksesan dan keuntungan pribadi serta perusahaan, akan tetapi pemimpin harus tahu dan mengerti bahwa di balik itu semua keberhasilan yang dicapai tidak lain dari dukungan penuh semua karyawan, maka pemimpin harus memperhatikan karyawan dari segi apapun. Hal tersebut tidak akan terwujud jika seorang pemimpin tidak dapat menemukan cara yang tepat agar kepemimpinan yang dijalankan bisa efektif. Para pemimpin yang besar bekerja dengan melibatkan emosi. Dengan pengertian bahwa penting sekali pemimpin harus bisa mengatasi emosi dirinya, bisa mengenali emosi karyawannya, dan tahu bagaimana membuat atmosfir emosi lingkungan kantor menjadi nyaman serta mengetahui bagaimana pentingnya membangkitkan antusiasme karyawannya, maka hal tersebut dapat menghindari kegagalan dan tidak hanya gagal sebagai pemimpin tetapi juga gagal membuat perusahaan menuju kesuksesan.
 
4) Peran Kepemimpinan Kontemporer
 Kepemimpinan kontemporer adalah  bentuk kepemimpinan pentransformasi (transforming leaders) mencoba menimbulkan kesadaran para pengikut dengan mengarahkannya kepada cita-cita dan nilai-nilai moral yang lebih tinggi.
Pada umumnya, para pemimpin transformasional memformulasikan sebuah visi, mengembangkan sebuah komitmen terhadapnya, melaksanakan strategi-strategi untuk mencapai visi tersebut, dan menanamkan nilai-nilai baru.
Kepemimpinan transformasional dalam organisasi dan membedakan kepemimpinan transformasional, karismatik dan transaksional. Pemimpin transformasional membuat para pengikut menjadi lebih peka terhadap nilai dan pentingnya pekerjaan, mengaktifkan kebutuhan-kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi dan menyebabkan para pengikut lebih mementingkan organisasi. Hasilnya adalah para pengikut merasa adanya kepercayaan dan rasa hormat terhadap pemimpin tersebut, serta termotivasi untuk melakukan sesuatu melebihi dari yang diharapkan darinya. Efek-efek transformasional dicapai dengan menggunakan karisma, kepemimpinan inspirasional, perhatian yang diindividualisasi serta stimulasi intelektual.

Tokoh Nasional dan Jiwa Kepemimpinan

Salam sejahtera untuk kita semua.
Pada kesempatan kali ini saya akan membahas beberapa tokoh nasional yang memiliki jiwa kepemimpinan. Namun, yang akan dibahas di dalam blog ini adalah mereka yang memiliki jiwa kepemimpinan yang baik dan bahkan dapat memberikan pengaruh yang baik terhadap sekitarnya. Berikut adalah beberapa tokoh nasional yang menurut saya adalah sosok pemimpin yang ideal.

1) Basuki Tjahaja Purnama
 

Ir. Basuki Tjahaja Purnama , MM atau paling dikenal dengan panggilan Ahok ini adalah Pelakasana Tugas Gubernur DKI Jakarta yang menjabat sejak 16 Oktober 2014. Pada 14 November 2014, ia diumumkan secara resmi menjadi Gubernur DKI Jakarta pengganti Joko Widodo, melalui rapat paripurna istimewa di gedung DPRD DKI Jakarta.
Ia merupakan lulusan dari jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Trisakti dan mendapatkan gelar insinyur pada tahun 1990. Basuki menyelesaikan pendidikan magister pada tahun 1994 dengan gelar Magister Manajemen di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetya Mulya.
Basuki adalah sosok pemimpin yang ideal. Ia memiliki hampir semua karakteristik pemimpin yang baik. Ia adalah sosok yang tegas, berwibawa, cerdas, berwawasan luas, memiliki kemampuan berkomunikasi yang efektif, serta  keberanian sosial dan percaya diri.
Hal tersebut terbukti dari berbagai pencapaian yang telah beliau lakukan.
Dalam karier bisnis nya, beliau pernah menjabat sebagai direktur PT Nurindra Ekapersada sebagai persiapan membangun pabrik Gravel Pack Sand (GPS) pada tahun 1995.
 Sedangkan dalam karier sosial dan politik, beliau pernah terpilih menjadi Bupati Belitung Timur pada pilkada Kabupaten Belitung Timur tahun 2005. 
Kemudian beliau juga pernah menjabat sebagai wakil gubernur DKI Jakarta. Basuki sesungguhnya telah berniat mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak tahun 2011 melalui jalur independen. Ia sempat berusaha mengumpulkan fotocopy KTP untuk bisa memenuhi persyaratan maju menjadi calon independen. Namun pada awal tahun 2012, ia mengaku pesimistis akan memnuhi syarat dukungan dan berpikir untuk menggunakan jalur melalui jalur partai politik. Pasa akhirnya Basuki mencalonkan diri sebagai wakil gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Joko Widodo.
Selama Jokowi menjalankan kampanye presiden, Basuki pun menjadi Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta. Setelah Jokowi resmi menyandang status sebagai Presiden Republik Indonesia, pada 14 November 2014, Dewan Perwakilan Rakyat DKI Jakarta mengumumkan Basuki sebagai Gubernur DKI Jakarta menggantikan Joko Widodo. Setelah pengumuman tersebut, DPRD DKI Jakarta mengirimkan surat ke Kementerian Dalam Negeri agar Basuki dilantik menjadi Gubernur.
Basuki benar-benar memiliki jiwa pemimpin. Selain tegas dan cerdas ia juga memiliki keberanian sosial dan rasa percaya diri. Padahal ia mendapat banyak tentangan saat akan diangkat menjadi Gubernur DKI Jakarta. Tentangan tersebut berasal dari FPI dan sebagian anggota DPRD DKI Jakarta dari partai-partai yang tergabung dalam koalisi Merah Putih.
Sebagai seorang pemimpin, Basuki menunjukkan kinerja yang bersih. Terbukti saat menjabat menjadi bupati Belitung Timur ,beliau membuat banyak gebrakan berkaitan dengan perbaikan kualitas kesehatan dan pendidikan. Atas kinerja nya sebagai pemimpin yang baik pun, beliau mendapat penghargaan sebagai bupati terbaik di Indonesia.

2) Anies Baswedan
 
Anies Rasyid Baswedan Ph.D adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia ke-26. Ia adalah seorang intelektual dan akademisi asal Indonesia. Cucu dari pejuang kemerdekaan Abdurrahman Baswedan, ia menginisiasi gerakan Indonesia Mengajar dan menjadi rektor termuda yang pernah dilantik oleh sebuah perguruan tinggi di Indonesia pada tahun 2007, saat menjadi rektor Universitas Paramadina pad usia 38 tahun.
Jiwa kepemimpinan yang dimiliki Anis sudah terlihat sejak ia duduk di bangku SMA. Ia aktif dalam berorganisasi dan menjadi ketua OSIS di sekolah nya saat itu. Ia pun mengikuti pelatihan kepemimpinan bersama tiga ratus orang ketua OSIS se-Indonesia. Hasilnya, Anies terpilih menjadi ketua OSIS se-Indonesia pada tahun 1985.
Saat duduk di bangku kuliah pun ia masih tetap berorganisasi dengan menjabat sebagai ketua senat mahasiswa UGM.
Ia memiliki hampir semua karakteristik jiwa kepemimpinan. Karakter tersebut lah yang mengantarkan Anis menduduki berbagai jabatan sebagai seorang pemimpin.
Ia pernah menjabat sebagai :
  •  Peneliti pusat antar universitas sudi ekonomi (UGM)
  • Manajer riset IPC, Inc, Chicago 
  • Kemitraan untuk reformasi tata kelola pemerintahan
  • Direktur riset Indonesian Institute Center
  • Rektor Universitas Paramadina
  • Ketua Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar
  • Penggagas gerakan turun tangan
  • Juru bicara pasangan capres-cawapres Jokowi-Jusuf Kalla
  • Staf deputi kantor transisi Jokowi-JK
  • Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (2014-2019)
Sebagai sosok pemimpin yang ideal, ia memiliki pemikira yang cerdas serta kreatif. Dengan wawasan yang ia miliki, ia menghasilkan berbagai pemikiran, yaitu :
  • Melunasi janji kemerdekaan
  • Tenun kebangsaan
  • Program Indonesia Mengajar, Indonesia Menyala, Kelas Inspirasi
  • Kualitas manusia Indonesia (gerakan anti korupsi, tim 8 KPK, ketua komite etik KPK)
  • Pemahaman akar rumput dan kompetensi global
Dengan segala prestasi yang telah dicapai sangat membuktikan bahwa Anis Baswedan memiliki karakteristik pemimpin yang baik yaitu tegas,bijaksana,berwawasan luas, mampu berpikir kreatif,  mampu mengembangkan setiap anggota tim, bertanggung jawab, dan memiliki sikap positif.





Jumat, 14 November 2014

Perilaku Antar Kelompokdan Manajemen Konflik

1) Pengertian konflik dan negosiasi

Konflik adalah adanya pertentangan yang timbul di dalam seseorang (masalah intern) maupun dengan orang lain (masalah ekstern) yang ada di sekitarnya. Konflik dapat berupa perselisihan (disagreement), adanya keteganyan (the presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antar kedua belah pihak, sampai kepada mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai pengahalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing-masing.

Definisi negosiasi secara formal dapat diartikan sebagai suatu bentuk pertemuan bisnis antara dua pihak atau lebih untuk mencapai suatu kesepakatan bisnis. Negosiasi merupakan perundingan antara dua pihak dimana didalamnya terdapat proses memberi, menerima, dan tawar menawar. Selain itu negosiasi juga merupakan ijab kabul dari sebuah proses interaksi yang dilakukan oleh kedua belah pihak untuk saling memberi dan menerima atas sesuatu yang ditentukan dengan kesepakatan bersama.

2) Faktor yang mempengaruhi hubungan antar kelompok

A. Faktor Situasional : Karakteristik Kelompok 1. Ukuran kelompok , menurut (Hare, 1952) kelompok yang efektif berjumlah 5 orang. 2. Jaringan komunikasi 3. Kohesi kelompok, yaitu kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok dan mencegahnya meninggalkan kelompok (Collins & Raven, 1964) Menurut Mc David & Harori (1964), kohesi kelompok diukur dari :

  • • ketertarikan satu sama lain secara interpersonal
  • • ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok
  • • sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat pemuas kebutuhan anggotanya
4. Kepemimpinan, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat berkomunikasi secara positif mempengaruhi kelompok untuk bergerak ke arah tujuan kelompok (Cragan & Wright,1980)
B. Faktor Personal : Karakteristik Anggota Kelompok
Menurut (Cragan & Wright, 1980) 2 dimensi interpersonal, yaitu :
1. Proses interpersonal : keterbukaan, percaya, simpati
2. Kebutuhan interpersonal → William C Schultz (FIRO) : inklusi, kontrol, afeksi


3) Proses konflik

 1.    Antecedent Conditions
Antecedent Conditions merupakan kondisi yang menyebabkan atau mendahului suatu peristiwa. Peristiwa yang dapat mengawali terjadinya konflik adalah adanya kekecewaan (frustration).
2.    Perceived Conflict
Tahap ini adalah antara kedua belah pihak sudah merasakan adanya konflik. Ini dapat dilihat dari adanya persaingan antara individu atau kelompok yang satu dengan yang lainnya.
3.    Manifested Conflict
Dalam tahap ini, antara pihak yang berkonflik sudah menampakkan peristiwa konflik. Bentuknya bisa berupa lisan, salaing mendiamkan, bertengkar dan berdebat.
4.    Conflict Resolution or Suppression
Tahap ini adalah tahap pengelolaan konflik. Pimpinan atau manajerlah yang memiliki tanggung jawab dalam hal ini.
5.    Aftermath
Aftermath maksudnya adalah dampak yang disebabkan oleh konflik.
4) Proses negosiasi dan perundingan 
Tahap pertama yaitu Sebelum Melakukan Negosiasi. Tahap ini sangat penting karena inilah saatnya kita melakukan persiapan, termasuk:
  • menetapkan tujuan dan sasaran, bottom line serta prioritas
  • mencari informasi tentang pihak lawan
  • mempersiapkan daftar pertanyaan, konsesi yang akan kita berikan serta alternatifnya
  • mengusulkan agenda, tim negosiator serta tempat negosiasi yang sesuai dengan kebutuhan semua pihak. 
         Tahap kedua yaitu Saat Bernegosiasi yang terkait dengan beberapa hal penting seperti:

  • menciptakan suasana negosiasi yang nyaman serta bersikap win-win
  • memastikan semua negosiator memiliki wewenang untuk mengambil keputusan 
  • menegaskan posisi awal kita dan memahami posisi awal pihak lawan
  • mencari solusi alternatif apabila terjadi perbedaan di antara posisi awal kedua pihak
  • menawarkan konsesi untuk memperoleh sesuatu yang kita inginkan
  • menyatakan bottom line Anda dengan jelas serta pada waktu yang tepat
  • memperhatikan bahasa tubuh atau komunikasi non-verbal pihak lawan untuk mengetahui perasaannya
  • mengambil keputusan akhir untuk mengakhiri negosiasi
          Tahap ketiga yaitu Mengakhiri Negosiasi. Hal-hal yang kita lakukan dalam tahap terakhir ini adalah:

  • menghindari pemberian dan penerimaan konsesi pada saat-saat terakhir
  • memastikan kedua pihak sudah memahami kesepakatan yang dicapai
  • menjelaskan hasil positif yang telah diperoleh dari kesepakatan
  • meneliti kembali dan mencatat semua syarat yang telah disepakati
  • membuat kesepakatan tertulis dan ditanda-tangani kedua pihak
  • menentukan batas waktu untuk mengimplementasi kesepakatan

Minggu, 09 November 2014

Perilaku Kelompok dan Team Kerja Pengambilan Keputusan dalam Organisasi

1. Definisi kelompok
Kelompok merupakan kumpulan manusia yang merupakan kesatuan beridentitas dengan adat istiadat dan sistem norma yang mengatur pola-pola interaksi antara manusia itu

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelompok
A. Faktor Situasional : Karakteristik Kelompok
1. Ukuran kelompok , menurut (Hare, 1952) kelompok yang efektif berjumlah 5 orang.
2. Jaringan komunikasi
3. Kohesi kelompok, yaitu kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok dan mencegahnya meninggalkan kelompok (Collins & Raven, 1964)
Menurut Mc David & Harori (1964), kohesi kelompok diukur dari :

  • • ketertarikan satu sama lain secara interpersonal
  • • ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok
  • • sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat pemuas kebutuhan anggotanya
4. Kepemimpinan, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat berkomunikasi secara positif mempengaruhi kelompok untuk bergerak ke arah tujuan kelompok (Cragan & Wright,1980)
B. Faktor Personal : Karakteristik Anggota Kelompok
Menurut (Cragan & Wright, 1980) 2 dimensi interpersonal, yaitu :
1. Proses interpersonal : keterbukaan, percaya, simpati
2. Kebutuhan interpersonal → William C Schultz (FIRO) : inklusi, kontrol, afeksi

3. Hubungan kelompok dengan team kerja
Demi membuat hubungan efektif, kita harus memperlakukan diri kita dan orang lain dengan penuh respek. Perlu diingat bahwa respek adalah inti penting dari apapun orang lain dan memahami cara mereka melihat sesuatu. Menilai orang lain secara prematur adalah sebuah tindakan yang bertolak belakang dari respek. Kita bisa respek orang lain meskipun perilaku mereka tidak bisa dimengerti. Bagaimana caranya? Hargai orang lain, mulai dari, misalnya asal mereka, prestasi mereka, atau pandangan dan sikap mereka terhadap sesuatu.

Respek adalah dasar dari hubungan yang kuat, ini berarti menghargai diri kita sendiri sebagaimana menghargai orang lain. Artinya, jika kita menghargai diri kita bagus, jauh lebih mudah untuk menghargai dan memperlakukan orang lain dengan bagus juga.

Kunci lain untuk membentuk hubungan efektif adalah berbesar hati menghadapi berbagai macam perbedaan. Letakkan pemahaman bahwa perbedaan antara manusia-manusia adalah sesuatu yang menarik dan alami. Mereka diciptakan berbeda-beda. Mereka dibesarkan di lingkungan yang berbeda-beda. Tidak ada dua manusia yang sama identik. Artinya, perbedaan musti disikapi secara positif.

Dengan ‘mendengarkan’ kita bisa menemukan ‘kebenaran’ baru yang terintegrasi diantara dua perspektif yang berbeda. Bukankah, mustinya lebih menyenangkan daripada misalnya, menyingkirkan, beradu pendapat, mengeluh, atau memusuhi. Belajar menghadapi perbedaan membutuhkan waktu  dan kadangkala membuat situasi batin Anda tidak nyaman, tetapi hanya itu satu-satunya jalan untuk memahami orang lain.

Solusi harus dilakukan untuk memenangkan semua pihak. Dalam dunia kerja, tidak ada seorangpun yang bisa memenangkan dirinya sendiri. Dalam membangun hubungan kerja yang efektif, win-win solution adalah tujuan, bukan sekedar sarana. Pihak-pihak musti mendapatkan kemanfaatan dari perbedaan-perbedaan itu baru kemudian muncul kemauan bekerja sama.


4. Pengambilan keputusan dalam kelompok
 
Terdapat dua alas an mengapa pengambilan keputusan secara kelompok:
1. Jumlah seluruh pengetahuan kelompok itu adalah lebih besar
2. Kelompok itu mempunyai gagasan alternatif-alternatif yang lebih luas dalam proses keputusan 

Kelebihan Dan Kelemahan Pembuatan Keputusan Kelompok Robbins, Stees
KELEBIHAN :
1. Breadth of Information : kelompok dapat mengumpulkan lebih banyak pengetahuan dan fakta
2. Diversity of Information : kelompok mempunyai perspektif yang lebih luas dan memikirkan lebih banyak solusi alternative
3. Acceptance of Solution : individu yang berpartisipasi dalam pembuatan keputusan tersebut dan lebih cenderung untuk mendukung keputusan
4. Legitimacy of Process : proses pembuatan keputusan kelompok berperan sebagai fungsi komunikasi yang penting, juga sebagai fungsi politis yang bergun

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan kelompok
1.    Fisik
Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan. 
2.    Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.3.    Rasional
Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya. 
4.    Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak. 
5.    Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual. 
6.    Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu. 
 

Jumat, 17 Oktober 2014

Komunikasi dalam Organisasi

Salam sejahtera untuk kita semua.
Pada kesempatan kali ini saya akan mengulas kembali mata kuliah kemarin yaitu mengenai komunikasi dalam organisasi.

1) Proses Komunikasi
Proses komunikasi adalah bagaimana komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya, sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan komunikatornya. Proses komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi termasuk juga suatu proses penyampaian informasi dari satu pihak ke pihak lain dimana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi dan masyarakat menciptakan dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain. Komunikasi berasal dari bahasa latin communis yang berarti sama. Communico, communicatio atau communicare yang berarti membuat sama. Secara sederhana komunikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan.
Pada umumnya komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, dan menunjukkan sikap tertentu seperti tersenyum, mengangkat bahu dan sebagainya. Komunikasi ini disebut komunikasi nonverbal. Proses komunikasi bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi dapat terjadi apabila ada interaksi antar manusia dan ada penyampaian pesan untuk mewujudkan motif komunikasi. Melalui komunikasi sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain.
a. komunikator
Komunikator adalah pihak yang bertindak sebagai pengirim pesan dalam sebuah proses komunikasi.Dengan kata lain, komunikator merupakan seseorang atau sekelompok orang yang berinisiatif untuk menjadi sumber dalam sebuah hubungan.Seorang komunikator tidak hanya berperan dalam menyampaikan pesan kepada penerima, namun juga memberikan respons dan tanggapan, serta menjawab pertanyaan dan masukan yang disampaikan oleh penerima, dan publik yang terkena dampak dari proses komunikasi yang berlangsung, baik secara langsung maupun tidak langsung.

b. Pesan
adalah setiap pemberitahuan, kata, atau komunikasi baik lisan maupun tertulis, yang dikirimkan dari satu orang ke orang lain.Pesan menjadi inti dari setiap proses komunikasi yang terjalin pesan terbagi menjadi dua, yakni pesan verbal dan non-verbal. Pesan verbal adalah jenis pesan yang penyampaiannya menggunakan kata-kata, dan dapat dipahami isinya oleh penerima berdasarkan apa yang didengarnya.Sedangkan, pesan non-verbal adalah jenis pesan yang penyampaiannya tidak menggunakan kata-kata secara langsung, dan dapat dipahami isinya oleh penerima berdasarkan gerak-gerik, tingkah laku, mimik wajah, atau ekspresi muka pengirim pesan.Pada pesan non-verbal mengandalkan indera penglihatan sebagai penangkap stimuli yang timbul.

c. Penerima
adalah pihak yang memperoleh pesan atau stimulus yang dikirmkan oleh sumber. Stimulus yang diterima tersebut dapat terdiri dari beraneka ragam bentuk, seperti kata-kata, tulisan, gerak-gerik, mimik muka, ekspresi wajah, sentuhan, aroma, serta perbuatan atau tingkah laku lawan bicara.Selanjutnya, peran penerima adalah mencerna dan menanggapi stimulus tersebut dengan mendengar, melihat, membau, atau merasakan.Secara garis besar, penerima dapat terbagi menjadi penerima aktif dan penerima pasif.Penerima pasif adalah orang yang hanya menerima stimulus yang datang kepadanya, tanpa memberikan tanggapan serta umpan balik (feedback).Sedangkan, penerima aktif adalah orang yang tidak saja menerima stimulus yang datang kepadanya, tetapi juga memberikan tanggapan atau feedback secara aktif (berkelanjutan) kepada pengirim.

d. Feedback
Balikan adalah isyarat atau tanggapan yang berisi kesan dari penerima pesan dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Tanpa balikan seorang pengirim pesan tidak akan tahu dampak pesannya terhadap sipenerima pesan Hal ini penting bagi manajer atau pengirim pesan untuk mengetahui apakah pesan sudah diterima dengan pemahaman yang benar dan tepat. Balikan dapat disampaikan oleh penerima pesan atau orang lain yang bukan penerima pesan. Balikan yang disampaikan oleh penerima pesan pada umumnya merupakan balikan langsung yang mengandung pemahaman atas pesan tersebut dan sekaligus merupakan apakah pesan itu akan dilaksanakan atau tidak
Balikan yang diberikan oleh orang lain didapat dari pengamatan pemberi balikan terhadap perilaku maupun ucapan penerima pesan. Pemberi balikan menggambarkan perilaku penerima pesan sebagai reaksi dari pesan yang diterimanya. Balikan bermanfaat untuk memberikan informasi, saran yang dapat menjadi bahan pertimbangan dan membantu untuk menumbuhkan kepercayaan serta keterbukaan diantara komunikan, juga balikan dapat memperjelas persepsi


2) Komunikasi dalam Organisasi
 
 Di bawah ini ada beberapa klasifikasi komunikasi dalam organisasi yang di tinjau dari beberapa segi :
  •  Dari segi sifatnya :
a. Komunikasi Lisan
Komunikasi yang berlangsung lisan / berbicara
b. Komunukasi Tertulis
Komunikasi melalui tulisan
c. Komunikasi Verbal
Komunikasi yang dibicarakan/diungkapkan
d. Komunikasi Non Verbal
Komunikasi yang tidak dibicarakan(tersirat)
  •   Dari segi arahnya :
1. Komunikasi Ke atas
Komunikasi dari bawahan ke atasan
2. Komunikasi Ke bawah
Komunikasi dari atasan ke bawahan
3. Komunikasi Horizontal
Komunikasi ke sesama manusia / setingkat
4. Komunikasi Satu Arah
Pemberitahuan gempa melalui BMKG(tanpa ada timbal balik)
5. Komunikasi Dua Arah
Berbicara dengan adanya timbal balik/ saling berkomunikasi
  • Menurut Lawannya :
1. Komunikasi Satu Lawan Satu
Berbicara dengan lawan bicara yang sama banyaknya
2. Komunikasi Satu Lawan Banyak (kelompok)
Berbicara antara satu orang dengan suatu kelompok
3. Kelompok Lawan Kelompok
Berbicara antara suatu kelompok dengan kelompok lain
  •  Menurut Keresmiannya :
1. Komunikasi Formal
Komunikasi yang berlangsung resmi
2. Komunikasi Informal
Komunikasi yang tidak resmi


3) Hambatan dalam komunikasi
Berikut ini adalah hambatan – hambatan dalam Komunikasi :
1. Hambatan dari Proses Komunikasi :
-          Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi emosional.
-          Hambatan dalam penyandian/simbol
Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.
-          Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.
-          Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima
-          Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima /mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.
-          Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.

Sekian hasil dari review mata kuliah perilaku organisasi mengenai komunikasi dalam organisasi. Semoga bermanfaat untuk kita semua. :)



Nilai, Sikap, Kepribdian Kerja, Stress

1) Pengertian Nilai
Berikut ini Pengertian Nilai Menurut para Ahli:
  • Pengertian Nilai Menurut Black's Law Dictionary (1990: 1550): The utility an object in satisfying, directly or indirectly, the needs or desires of human beings, called by economists value in its, or its worth consisting in the power of purchasing other objects, caled value in exchange.
  • Pengertian Nilai Menurut Louis O. Kattsoff (1987): membedakan nilai dalam dua macam, yaitu: (1) NIlai intrinsik dan 2) nilai instrumental. Nilai intrinsik adalah nilai dari sesuatu yang sejak semula sudah bernilai, sedangkan nilai instrumental adalah nilai dari sesuatu karena dapat dipakai sebagai sarana untuk mencapai tujuan sesuatu. 
  • Pengertian Nilai Menurut Radbruch (Notohamidjojo, 1975): ada tiga nilai yang penting yaitu; 1) Individualwerte, nilai-nilai pribadi yang penting untuk mewujudkan kepribadian, 2) Pengertian Nilai Menurut Gemeinschaftswerte, nilai-nilai masyarakat, nilai yang hanya dapat diwujudkan dalam masyarakat manusia, dan 3) Werkwerte, nilai-nilai dalam karya manusia dan pada umumnya dalam kebudayaan.
  • Pengertian Nilai Menurut Max Scheler (Hadiwardojo, 1985): mengelompokkan nilai menjadi; nilai kenikmatan, kehidupan, kejiwaan, dan kerohanian.
  • Pengertian Nilai Menurut Notonagoro: membagi nilai dalam tiga macam nilai pokok, yaitu nilai materil, vital, dan kerohanian.
2) Sikap
 Secara umum, pengertian sikap (attitude) adalah perasaan, pikiran, dan kecenderungan seseorang yang kurang lebih bersifat permanen mengenal aspek-aspek tertentu dalam lingkungannya. Komponen-komponen sikap adalah pengetahuan. perasaan-perasaan, dan kecenderungan untuk bertindak.
Berikut ini pengertian sikap dari beberapa ahli:
  • Notoatmodjo S. (1997): Sikap adalah reaksi atau respons yang masih tertutup dan seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.
  • Bimo Walgito, (2001): Sikap adalah organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar pada orang tersebut untuk membuat respons atau berpenilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya.
 ada tiga jenis sikap manusia:
  • Kognitif, yang berkaitan dengan apa yang dipelajari, tentang apa yang diketahui tentang suatu objek;
  • Afektif, atau sering disebut faktor emosional, yang berkaitan dengan perasaan (bagaimana perasaan tentang objek);
  • Psikomotorik atau konatif, yakni perilaku (behavioral) yang terlihat melalui predisposisi suatu tindakan.
3) Keanekaragaman Angkatan Kerja
Keragaman angkatan kerja: sebuah angkatan kerja yg dgn tanpa terkecuali terdiri atas orang2 dgn kualitas manusia yg berbeda/ yg berasal dr kelompok budaya yg beragam.
Dimensi-dimensi dari pokok keragaman :
·         Dimensi primer: elemen pokok sebagai mana org2 membentuk citra diri dan pandangannya terhadap dunia. Meliputi: umur, ras, etnisitas, gender, kemampuan mental dan fisik, serta orientasi seksual.
·         Dimensi sekunder: elemen yg dapat didapatkan atau berubah dalam waktu hidup seseorang. Memiliki pengaruh yg lebih sedikit, tetapi memengaruhi definisi diri seseorang dan pandangannya terhadap dunia serta memiliki pengaruh dalam bagaimana org tsb dipandang oleh org lain.
4)  Faktor-faktor kepuasan kerja
 Menurut Baron & Byrne (1994) ada dua kelompok faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja. Faktor pertama yaitu faktor organisasi yang berisi kebijaksanaan perusahaan dan iklim kerja. Faktor kedua yaitu faktor individual atau karakteristik karyawan. Pada faktor individual ada dua predictor penting terhadap kepuasan kerja yaitu status dan senioritas.
 Berbeda dengan pendapat Blum ada pendapat lain dari Gilmer (1966) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja sebagai berikut:

a. Kesempatan untuk maju
Dalam hal ini ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan peningkatan kemampuan selama kerja.

b. Keamanan kerja
Faktor ini sering disebut sebagai penunjang kepuasan kerja, baik bagi karyawan pria maupun wanita. Keadaan yang aman sangat mempengaruhi perasaan karyawan selama kerja.

c. Gaji
Gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan dan jarang orang mengekspresikan kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang diperolehnya.

d. Perusahaan dan manajemen
Perusahaan dan manajemen yang baik adalah yang mampu memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil. Faktor ini yang menentukan kepuasan kerja karyawan.

e. Pengawasan (Supervise)
Bagi karyawan, supervisor dianggap sebagai figur ayah dan sekaligus atasannya. Supervisi yang buruk dapat berakibat absensi dan turn over.

f. Faktor intrinsik dari pekerjaan
Atribut yang ada pada pekerjaan mensyaratkan ketrampilan tertentu. Sukar dan mudahnya serta kebanggaan akan tugas akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan.

g. Kondisi kerja
Termasuk di sini adalah kondisi tempat, ventilasi, penyinaran, kantin dan tempat parkir.

h. Aspek sosial dalam pekerjaan
Merupakan salah satu sikap yang sulit digambarkan tetapi dipandang sebagai faktor yang menunjang puas atau tidak puas dalam kerja.

i. Komunikasi
Komunikasi yang lancar antar karyawan dengan pihak manajemen banyak dipakai alasan untuk menyukai jabatannya. Dalam hal ini adanya kesediaan pihak atasan untuk mau mendengar, memahami dan mengakui pendapat ataupun prestasi karyawannya sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas terhadap kerja.

j. Fasilitas
Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa puas.

5) Hubungan stres dengan prestasi kerja
 Stres merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami keteganggan karena adanya kondisi-kondisi yang mempengaruhi dirinya,kondisi-kondisi tersebut dapat diperoleh dari dalam maupun dari luar diri seseorang. Namun perlu diperhatikan bahwa suatu kondisi yang membuat stres kerja karyawan belum tentu akan membuat stres kerja karyawan lainnya. Konflik yang terjadi pada seorang karyawan mungkin menimbulkan stres kerja pada seorang karyawan, namun merupakan tantangan bagi karyawan lainnya. Berdasarkan contoh-contoh tersebut dapat dilihat bahwa kondisi yang sama belum tentu diterima sama oleh masing-masing individu tergantung pada keadaan individu, lingkungan dan faktor-faktor lain.
 Reaksi terhadap stres dapat merupakan reaksi yang bersifat psikis maupun fisik. Biasanya para pekerja atau karyawan yang mengalami stres akan menunjukan perubahan perilaku. Perubahan perilaku terjadi pada diri manusia sebagai usaha untuk mengatasi stres (fight), melarikan diri dari kenyataan (flight), atau berdiam diri (freeze). Dalam kehidupan sehari-hari, ketiga reaksi ini biasanya dilakukan secara bergantian tergantung situasi danbentuk stres.

Perubahan perilaku di tempat kerja merupakan gejala-gejala individu yang mengalami stres. 
 a. Bekerja melewati batas kemampuan atau bekerja di bawah garis normal dibandingkan dengan ukuran rata-rata.

b. Keterlambatan masuk kerja yang sering dan berkali-kali.

c. Ketidak hadiaran di pekerjaan.

d. Kesulitan membuat keputusan.

e. Kesalahan yang sembrono.

f. Kelalaian menyelesaikan pekerjaan.

g. Lupa akan janji-janji yang telah dibuat.

h. Kesulitan berhubungan dengan orang lain.

i. Kerisauan tentang kesalahan yang dibuat dan kegagalan diri.

j. Menunjukan gejala-gejala gangguan fisik seperti: gangguan pada alat pencernaan, tekanan darah tinggi, radang kulit, radang pernafasan, dan lain-lain.